TEMU CALON PELANGGAN HEMODIALISIS RSUD dr. DARSONO KABUPATEN PACITAN

Penderita penyakit gagal ginjal yang membutuhkan pelayanan Cuci Darah atau Hemodialisis di Kabupaten Pacitan cukup tinggi, tercatat ada sekitar 60 orang penderita yang rutin melakukan cuci darah atau hemodialisis ke rumah sakit luar wilayah,  karena di RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan belum mempunyai fasilitas pelayanan hemodialisis sehingga  beban biaya yang ditanggung oleh penderita menjadi lebih tinggi kerana ada biaya tambahan untuk transportasi dan rata–rata sebagian besar penderita melakukan cuci darah sebanyak 2 kali sebulan.

Untuk meringankan beban pembiayaan kesehatan bagi penderita penyakit gagal ginjal yang memerlukan cuci darah atau hemodalaisis tersebut RSUD dr. Darsono Kabupaten selama dua tahun terakhir telah merintis berdirinya Unit Hemodialis yang saat ini telah memasuki tahap akhir yang akan dilakukan visitasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Pernefri Jawa Timur tanggal 26 April 2017 dan mudah – mudahan dalam waktu tidak lama ijin operasionalnya segera keluar karena sangat ditunggu masyarakat Pacitan yang membutuhkan cuci darah atau hemodialisis.

Salah satu upaya agar pada saat pelaksanaan hemodialisis nanti dapat berjalan dengan lancer, telah dilaksanakan acara “Temu Calon Pelanggan Pelayanan Hemodialisis“ di RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan pada hari Minggu tanggal 16 April 2016, yang dihadiri oleh 26 penderita gagal ginjal dan satu orang pendamping,

Dalam sambutannya Kabid Pengembangan yang mewakili Direktur RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan menjelaskan tentang upaya Rumah Sakit  dalam mempersiapkan Unit Hemodilaisis serta perkembangan Rumah Sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan dan kepuasan konsumen.

Dalam kesempatan tersebut juga diperkenalkan Tim Unit Hemodialisis oleh Kepala Bidang Pelayanan yang diketui oleh dr. Joko Priyanto, M.Sc, Sp.PD, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa pasien hemodialisis merupakan mitra dan teman sehingga akan terjalain komunikasi yang baik dan penuh kekeluargaan dalam memberikan pelayanan, mengingat pelaksanaan hemodialisis bagi pasien gagal ginjal dilaksanakan sampai seumur hidup.

Untuk lebih meningkatkan kepercayaan bagi calon pelanggan hemodialisis, selanjutnya peserta dibawa untuk tinjauan lapangan guna melihat – lihat fasilitas yang ada di Unit Hemodialisis. (msr)

KUNJUNGAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROPINSI JAWA TIMUR DI RSUD dr. DARSONO KABUPATEN PACITAN

Disela – sela kunjungan kerjanya di Kabupaten Pacitan dalam rangka Pencanangan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Deklarasi Sanitasi Total Untuk Masayarakat Pacitan pada tanggal 4 April 2017 Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur yaitu dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An,KIC,KAP (K) yang didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Propinsi Jawa Timur drg. Ina Mahanani, M.Kes. menyempatkan melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Darsono Kabupaten Pacitan.

Dalam kunjungan tersebut juga hadir bapak Bupati Indartato, PLT Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dr. Eko Budiono, MM, rombongan Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, yaitu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wawan Kasiyanto dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Ratna Susy Rahayu serta sebagai tuan rumah Direktur RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan dr. Iman Darmawan, M.Kes.

Rombongan meninjau Unit Hemodialisis, Gedung Rawat Inap baru untuk pengembangan Rumah Sakit dan Paviliun Rawat Inap Wijaya Kusuma. Kesempatan ini dimanfaatkan dr. Iman Darmawan, M.Kes., untuk menyampaikan rencana pengoperasionalan Unit Hemodialisis yang sangat ditunggu – tunggu oleh masyarakat Pacitan dan rencana pengembangan rumah sakit ke depan dalam rangka memenuhi harapan masyarakat .

 

 

 

 

 

Dalam arahannya dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An,KIC,KAP (K) menyampaikan agar Unit Hemodialisis yang akan dioperasionalkan  betul – betul dipersiapkan dengan sebaik – sebaiknya dan segera mengajukan permohonan perijinannya ke Dinas Kesehatan Propinsi agar secepatnya dilakukan visitasi, sedang untuk pengembangan rumah sakit, beliau sangat mendukung sekali  dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Pacitan, akan tetapi dalam pembangunannya nanti harus  betul-betul diperhatikan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang cukup di rumah sakit sehingga sirkulasi udara akan lancar dan lingkungan rumah sakit menjadi lebih bersih dan sehat. (msr)

PELATIHAN “ CITRA DIRI “ WAHANA PENINGKATAN KUALITAS SDM RUMAH SAKIT DALAM PELAYANAN KESEHATAN

1Hari Sabtu s.d Minggu tanggal 11 s.d 12 Pebruari 2017 di Ruang Pertemuan “ dr. SOEPARNO “ RSUD Kabupaten Pacitan, RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan bekerjasama  dengan “KINERJA ADB” menyelenggarakan Pelatihan Citra Diri guna memberikan penguatan / pembinaan kepada petugas melalui pendampingan dan supervisi yang diikuti 35 karyawan dan karyawati dengan berbagai profesi mulai dari dokter sampai petugas pengamanan serta para pejabat struktural.

Dalam sambutannya ibu Dina Limanto Provincial Coordinator Kinerja-ADB, mengatakan “ ucapan terimakasih karena RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan mau membuka diri dan menerima Kinerja ADB dalam kerjasama upaya peningkatan kualitas layanan di rumah sakit melalui bimbingan teknis tentang citra diri terhadap petugas “.

52 8 3

Sedangkan Direktur RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan dr. Iman Darmawan dalam sambutannya mengatakan; rumah sakit kita sudah terakreditasi paripurna, akan tetapi dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan, pihak manajemen RS tidak pernah berhenti dan selalu berupaya agar pengetahuan dan keterampilan petugas semakin bertambah.

9Materi dalam pelatihan tersebut antara lain: Bina Suasana, Citra Diri, Kerjasama Kemitraan, Mengenal orang lain, Kepemimpinan, Komunikasi Efektif, Supervisi dan Fasilitasi

Pelatihan ini diharapkan mampu menambah pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan bagi para petugas pelayanan di RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan, sehingga pelayanan di rumah sakit semakin meningkatkan dan memuaskan pelanggan. Kedepan pelatihan seperti ini akan dilakukan secara berkelanjutan agar berdaya guna dan berhasil guna. (mik)

11 6 10

 

PELATIHAN PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN MATERNA & NEONATAL DI RSUD Dr. DARSONO KABUPATEN PACITAN TAHUN 2017

1Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator derajad kesehatan masyarakat, semakin rendah AKI dan AKB menunjukkan semakin baik derajad kesehatan masyarakatnya demikian pula sebaliknya.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih relatif tinggi dibanding target pencampaian MDGs tahun 2015,  adapun sasaran pencapaian MDGs yaitu adanya penurunan sebesar 102 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup dan 23 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup.

Penyebab kematian ibu sebagian besar disebabkan perdarahan (39%), keracunan kehamilan (20%), infeksi (7%) dan lain – lain (33%) dan ditunjang belum optimalnya mekanisme rujukan dalam pen2anganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Salah satu kriteria umum rumah sakit PONEK adalah adanya dokter, bidan, dan perawat yang telah mengikuti pelatihan Tim PONEK di rumah sakit.Untuk itu dalam rangka meningkatkan pelayanan PONEK, telah diselenggarakan pelatihan Tim PONEK di Rumah Sakit Umum Daerah  dr. Darsono Kabupaten Pacitan yang dilaksanakan pada tanggal 25 – 26 Januari 2017,  yang diikuti oleh dokter, perawat dan bidan RSUD dr. Darsono dengan jumlah keseluruhan sebanyak 66 orang.

Adapun materi pelatihan meliputi : Penanganan Kegawat Daruratan Umum, Kegawat Darutan Maternal dan Kegawat Daruratan Nenotal sedang sebagai narasumber adalah dokter spesialis RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan, yaitu dr. Nety Nurnaningtyas, Sp.EM, dr. Agung Suherman, Sp. OG, dr. Bambang Eko Wiy3ono, Sp.OG dan dr. Sulaiaman Hamid, M.Sc, Sp.A.

Dengan pelatihan PONEK ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan Kegawat Daruratan Maternal dan Neonatal  sehingga dapat berkontribusi menurunkan AKI dan AKB khususnya di Kabupaten Pacitan.

Sumber: Bidang Pengembangan, Seksi Sumber Daya RS

PERESMIAN PERALATAN CT SCAN DAN RUMAH DINAS DOKTER SPESIALIS RSUD Dr. DARSONO KABUPATEN PACITAN

file (1)Kepercayaan masyarakat Pacitan terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Darsono Kabupaten Pacitan saat ini semakin meningkat. Ini diketahui dari laporan indikator pelayanan kesehatan rumah sakit tahun 2016, yaitu  kunjungan rawat jalan mengalami peningkatan 14,78%  (47.635 kunjungan) dibanding tahun 2015  (41.500 kunjungan), demikian juga kunjungan rawat inap mengalami peningkatan sebesar 18,41 % (40.065 kunjungan) dibanding tahun 2015 (33.837 kunjungan)

Peningkatan pelayanan ini menuntut penambahan jenis fasilitas sarana kesehatan sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan lebih lengkap dan dapat memberikan kepuasan pada masyarakat. Salah satu jenis peralatan kesehatan baru yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk penegakan diagnosa terutama untuk penyakit syaraf dan stroke yaitu peralatan CT Scan yang telah diresmikan oleh bapak Bupati Pacitan Indartato pada tanggal 12 Januari 2017 sehingga ke depan tidak perlu lagi dilakukan rujukan ke rfile (2)umah sakit lain (luar kota)

Dalam sambuatannya Bupati Pacitan Indartato menekankan, dengan penembahan fasilitas CT Scan ini dihharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit sehingga masyarakat pacitan yang sebelumnya berobat ke rumah sakit luar kotadapat dilayani di rumah sakit sini, sehingga mengurangi beban pembiayaan kesehatannya.

Pada saat yang bersamaan Bupati Pacitan Indartato juga meresmikan rumah dinas dokter spesialis RSUD dr. Darsono, yang berbentuk rumah flat terdiri dari dari 8 unit kamar yang berada di Jalan Let Jend Suprapto Kelurahan Sidoharjo,  bersebelahan dengan Kantor Badan Pertanahan (BPN) Kabupaten Pacitan.

Keberadaan rumah dinas bagi dokter spesialis ini sangat penting mengingat Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah yang tidak diminati oleh dokter spesialis, diharapkan dengan adanya perumahan ini dapat memberikan kenyamanan dokter spesialis sehingga dapat meningkatnya kinerja dan lebih betah di Pacitan. (mik)

PPI RS dan Akreditasi Paripurna

hh-size-kecil-intan

Komite dan Tim  PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) Rumah Sakit berkomitmen dan fokus sebagai pengendali infeksi nosokomial di rumah sakit dengan tindakan yang bersifat pencegahan, pelaksanaan maupun evaluasi terhadap infeksi nosokomial di rumah sakit. Pada 26 Juli 2016 kerja keras tim PPI sebagai bagian tim yang dinilai, membuahkan hasil dengan menerima sertifikat akreditasi rumah sakit, bintang lima PARIPURNA.

Tim PPI RS dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit sebagai wujud dari peningkatan mutu pelayanan dan keprofesionalan rumah sakit dalam memberikan pelayanan terhadap pasien baik pasien sebelum masuk rumah sakit, saat dirawat dan setelah keluar dari rumah sakit. Ini terwuud karena kerja sama dan saling bahu membahu membentuk eksistensi PPI di RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan.  Program – program PPI sebagai budaya yang harus dilaksanakan dan dipatuhi terkait Patient Safety pelayanan kesehatan rumah sakit.

Program Kebersihan tangan atau Hand Hygiene (HH) merupakan salah satu kegiatan sehari hari yang harus dilaksanakan oleh seluruh karyawan rumah sakit dengan memperhatikan 5 moment cuci tangan atau Five Moment. “Kegiatan HH merupakan satu satunya yang paling penting dan efektif untuk mencegah penularan infeksi “ kata dr. Didik Agus Santoso, MM, Sp.PK.

Program – program PPI RS lainnya adalah Audit kewaspadaan standar (audit kepatuhan petugas dalam penggunaan APD, audit kepatuhan dalam penatalaksanaan alat, penatalaksanaan linen, audit kepatuhan petugas dalam penyuntikan yang aman, audit penatalaksanaan sampah dan limbah rumah sakit), surveilans (Phlebitis, HAP, VAP, ISK, ILO dan dekubitus), pendidikan dan pengembangan staf, pemeliharaan kesehatan karyawan, pengembangan sarana dan prasarana pendukung kegiatan PPI, evaluasi penyakit dan organisme yang signifikan secara epidemiologis, multi drug resistans, virulensi infeksi yang tinggi, evaluasi persiapan muncul dan permunculan ualang (emerging dan reemerging desease), evaluasi proses pengelolaan bahan, alat kadaluarsa dan barang single use yang di re-use, evaluasi tata laksana pelayanan jenazah di rumah sakit, evaluasi terkait pelayanan hygienitas Instalasi GIzi di Rumah sakit, Evaluasi pelaksanaan ICRA (Infection Control Risk Assesment) renovasi maupun HAI’s dan evaluasi pelaksanaan tata laksana isolasi dan prosedur penghalang (barier).

Perjuangan Tim PPI RS menuju ke Akreditasi RS bukanlah hal yang mudah. Hal ini diungkapkan Ketua Tim PPI dr. Masrifah saat diwawancarai di Sekretariat Komite PPI RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan. “Dari mengurusi sampah, limbah, perilaku, kebiasaan, mind site yang keliru tentang infeksi sampai segala pengusulan fasilitas pendukung PPI, membutuhkan ekstra pemikiran dan materi yang cukup besar untuk sukseskan Program PPI“ ujar dr. Masrifah.  “Pengalaman manis dan pahit kami rasakan, namun itu bukan menjadi sebuah permasalahan besar, sebab kami percaya pada mimpi-mimpi kami bahwa kami bisa, pasti bisa dan harus bisa,“ Perjuangan didukung Manajemen Rumah Sakit baik Bapak Direktur RS, Bidang Pelayanan, Bidang Pengembangan maupun Bidang Keuangan rumah sakit.

Pelaksanaan PPIRS sebagian orang menganggapnya adalah hal yang sepele dan tidak penting atau bahkan dipandang sebelah mata, tetapi tanpa PPI RS pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada pasien dan bagi petugas sendiri tidak bisa dievaluasi atau tidak bisa meningkatkan mutu pelayanan dan keprofesionalan rumah sakit. “Saya sangat mengapresiasi kerja sama dan kerja keras dari Komite dan Tim PPI RS untuk bisa terus berkomitmen di PPI RSUD dr.Darsono Kabupaten Pacitan” ulas Bu Nur Handayani, S,Kep.,Ns,MM (Kasie Pelayanan Keperawatan RSUD dr.Darsono Kabupaten Pacitan) saat acara pengumuman  Tim PPI terbaik 2016 kemarin (8/9/2016), ” sebab kita bisa mewujudkan visi misi rumah sakit dan meningkatkan mutu pelayanan kita kepada pasien”

Tak hanya pengalaman personal saja yang didapatkan ketika bergabung dengan Tim PPI RS tetapi pengalaman sebagai manager, untuk mengelola personal agar bisa melaksanakan program PPI RS dengan baik dan benar sesuai regulasi terbaru. Namun, masih banyak sisi lain dari PPI RS yang belum bisa dilaksanakan dengan maksimal, semoga kedepan PPI RS bisa lebih baik, lebih maju dan lebih sukses lagi. “Sejatinya, prinsip yang berharga dalam perjalanan kepada Akreditasi Rumah sakit tahun 2016 ini adalah kenangan dan pengalaman,” ujar Intan Maulida (IPCN RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan). “Saya percaya pada mimpi yang pasti jadi nyata, apabila kita berani mewujudkannya,” tambahnya. (Int)